Anda sedang bersama:

Catatan si(mBah)Bagong

13 September 2010

Waktu adalah uang

Uang adalah waktu
Waktu adalah uang, pepatah orang Barat ini telah menjadi milik dunia. Uang, dari sekedar sebuah alat tukar telah berkembang menjadi menentukan perilaku manusia dalam berkehidupan sosial. Bahkan tak jarang SEOorang manusia menjadi budak uang yang mampu merubah karakter yang tercermin dari perilakunya dan sudut pandang manusia terhadap diri dan dunianya.
Ah, …. masak? Coba saja cermati cerita berikut ini:

Baru-baru ini di lingkungan kerja saya sedang mengadakan kerja bakti untuk menyongsong 17 Agustusan. Seorang teman yang nampaknya sudah menjadi wataknya, kurang menunjukkan antusiasnya dalam melakukan kerja bakti seperti kawan-kawan lainnya. Dia cuma mondar-mandir kesana-kemari sambil teruuuuussss…… saja bicara dengan HP-nya. Entah apa yang dibicarakan. Tak lama kemudian sambil tertawa ia berteriak: “Hai kawan, sorry saya ada bisnis kecil-kecilan ini. Aku pulang duluan ya. Waktu adalah uang. Sayang kalau disia-siakan”. Tanpa sungkan ia ngloyor meninggalkan kawan-kawannya yang sedang bekerja-bakti.
Cerita lainnya lagi begini. Dalam sebuah bis kota ada dua orang sedang berbincang asyik. Sepintas terdengar sedang membicarakan bisnisnya dengan orang ketiga. Awalnya mereka berdua berbicara dengan suara yang biasa-biasa saja. Tetapi tak lama kemudian, nampaknya masing-masing berdiri di pihak yang berbeda. Pembicaraan mereka semakin keras dan sedikit ada ketegangan. SEOrang dari mereka dengan sedikit nada marah bilang: “Nggak bisa. Aku nggak bisa seperti caramu berpikir. Memang kami bersaudara. Tapi kan orangnya. Uang tidak pernah mengenal saudara”. Temannya berbincang kemudian diam. Nampaknya ia telah menempatkan posisinya seperti yang menjadi keyakinannya dan tidak ingin berbicara lebih banyak lagi. Sepintas dengan mudah bisa diambil kesimpulan bahwa temannya lebih mementingkan uang daripada persaudaraan. Sebuah karakterkah?




Yang ini cerita lain lagi. Baru beberapa hari yang lalu, saat saya sedang baca koran pagi di teras rumah, lewat di depan rumah SEOrang perempuan setengah tua. Dia berjalan sambil terus ngomel, cenderung marah-marah. Ternyata ia SEOorang pengemis. Ketika saya tegor: “Ada apa sepagi ini sudah marah-marah?” Perempuan itu menjawab: “Orang itu (sambil menuding ke arah dari mana ia berjalan), sudah ngemis nipu lagi ke sesama kawan”. Saya Tanya: “Masalahnya?” Jawab perempuan itu: “Hari ini kan hari kerja saya. Dia kan harusnya kemarin. Dia bilang kemarin dia nggak jalan. Kan salahnya sendiri. Kenapa lalu nyrobot hari milik orang lain. Dasar pengemis penipu”. Dalam hati saya berkata: “Sesama pengemis dilarang berebut hari!!!” Wah, wah, wah. Uang membuat jaman semakin edan. Orangpun semakin berperilaku edan.
Saya kembali ke koran yang memberitakan beberapa kasus korupsi yang sudah berbulan-bulan tak kunjung memuaskan berbagai kalangan. Lagi-lagi uang membuat kesenjangan dan ketegangan. Daya tarik uang telah membius dari anak-anak hingga manula. Merubah dan membentuk karakter orang tanpa pandang jenis kelamin dan usia. Orang bisa menjadi kejam karena uang. Betulkah orang tidak bisa lepas dari uang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar