![]() | |||
| Uang kurang, persoalan datang |
Kemelaratan dan utang dapat diatasi tanpa kekayaan yang berlimpah. Berburu uang memang sebuah kebutuhan, tapi bukan satu-satunya cara untuk sukses. Perlu diwaspadai munculnya perilaku perbudakan uang dan pembentukan karakter baru manusia oleh uang!
Ketenaran selebriti paling sering dikaitkan dengan kesuksesan seSEOrang. Karena mereka pendulang uang nomor wahid. Tetapi nama besar dan ketenaran dengan cara yang keliru sama sekali bukan sebuah kesuksesan. Memang tentu tergantung pada orientasinya dan bagaimana mengartikan kesuksesan itu. Kalau sukses bukan diukur dari banyaknya uang yang dikumpulkan maka membangun karir, terjun dalam bisnis atau menekuni profesi, orang tidak akan berambisi untuk membangun gundukan uang dan bentuk kekayaan lainnya. Banyak orang merasa puas karena karirnya sukses dan melejit atau karena memperoleh pengakuan dalam tugas-tugas profesionalnya.
Tidak selalu pebisnis merasa sukses karena banyak laba. Bukan itu ukurannya. Bisa saja ketika ia mendapat pengakuan lingkungannya karena pelayanannya yang memuaskan. Dalam perspektif lain, orang ingin sukses dalam karir ketika mereka mencintai jenis pekerjaan yang mereka pilih. Meskipun upahnya kecil. Misalnya pekerja konservasi satwa yang dapat melestarikan banyak hewan langka dari bahaya kepunahan. Atau SEOrang tukang sulap kampong yang mendapat tepuk tangan yang meriah dari penontonnya, walaupun terdiri dari anak-anak sekolah dasar.Contoh lainnya, misalnya petinju amatir yang wajahnya bonyok tapi akhirnya menang angka tipis. Tetap saja ia merasakan kebanggaannya di balik kebonyokan dan uang sakunya yang ala kadarnya.
Ini contoh lain yang tak bisa dibantah siapapun. SEOrang ibu yang bertahun-tahun mengasuh anaknya (yang bisa jadi lebih dari tiga orang) dan ternyata semua jadi pejabat yang bersih dari perbuatan tercela. Dia tetap bangga dengan kesuseksannya yang tanpa memberinya uang yang seimbang dengan jerih payahnya. Dia ikhlas dan puas. Banyak prestasi pribadi dan keberhasilan yang sangat berarti tanpa menyebut-nyebut uang.
Saya yakin semua setuju. Uang tidak mesti memenuhi dan memuaskan mimpi seSEOrang. Uang hanya bisa bertahan dalam lingkungan masyarakat modern yang membutuhkan alat tukar. Di dalam masyarakat di mana uang telah menjadi media untuk pertukaran barang dan jasa, kehidupan sehari-hari akan berputar di seputar uang. Hal ini tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa seseorang perlu uang hanya untuk bertahan hidup dalam masyarakatnya. Uang memang penting.
Tetapi benarkah itu jawaban bahwa uang memang adalah pengukur kesuksesan seSEOrang? Terbukti tergantung pada masing-masing orang.Uang memang sering dapat membantu menciptakan kesuksesan (semu) seSEOrang sesuai dengan cara pandangnya. Tetapi puaskah ia dengan memperoleh uang banyak saja. Sedang ia sebenarnya tidak melakukan apapun sebagaimana standard yang mestinya ia ‘jual’. Misalnya menuntut gaji besar tetapi kerjanya cuma ngantuk di kantor. Apakah itu sebuah kesuksesan yang bisa dibanggakan pada anak isteri karena bisa membawa pulang uang yang banyak. Lebih celaka lagi bila uang itu kecampuran entah uang siapa. Dan, pernahkan anda dengar karena bertumpuknya uang dapat meningkatkan perselingkuhan dan perceraian. Mending kalau poligami demi membantu mengentas kemiskinan dan mengurangi jumlah anak haram (maksudnya bapaknya nggak/belum jelas gitu loooookh!). Belum lagi kekerasan berlatar belakang uang. Mau beruang?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar