![]() |
| Dari sini kekuasaan dan kekuatan bisa datang |
Uang mencerminkan moral dan karakter manusia lewat perilakunya. Pada jaman setelah ada uang, uang identik dengan kekuatan dan/atau kekuasaan. Semakin modern jaman, uang semakin kuasa. Kalau nggak, kan nggak ada istilah ‘politik-uang’. Kekuatan apapun, baik sosial,
politik, militer, apalagi ekonomi ditentukan oleh uang. Mungkin kita bisa berkuasa dengan cara menjarah atau perang ketimbang secara ekonomi. Tetapi saya kira semua setuju itu tidak bisa terlepas dari peranan uang. Mau perang?Apa yang dipakai untuk mendukung logistik selama perang?
Tentu dalam kebanyakan situasi uang berperan menonjol. Selain karena orang, uang merupakan kekuatan utama dibalik kekuasaan. Kekuatan sosial tidak membutuhkan uang secara langsung. Tetapi secara tidak langsung seringkali berkaitan erat dengan kekayaan atau sumberdaya dalam bentuk lain. Dalam banyak kasus dapat tercermin pada istilah ‘politi-uang’ itu.
Kekuatan politik itu cuma pagar. SeSEOrang tidak perlu kaya untuk mempunyai kekuatan politik. Pendidikan yang memadai bisa membantunya. Politisi dengan latar belakang pendidikan yang baik tentunya akan memerankan kekuatan politiknya dengan baik. Ini untuk negara maju dalam pengertian yang sebenarnya. Tetapi kini uanglah yang paling dominan untuk menjadi penguasa. Lagi-lagi nampak dengan telanjang pengertian ‘politik-uang’ yang popular di masa kini.
SEOrang penguasa yang juga SEOorang pengusaha yang sukses (baca: uangnya buwanyak sekali) biasanya mempunyai hubungan pertemanan yang luas dan tingkat yang tinggi. Pekerjaannya terhormat dan memiliki pengaruh sosial hingga taraf tertentu, toh tetap tidak bisa lepas dari peran uang. Contohnya nggak usah disebutkan lah. Semua juga tahu!
Kalau misalnya orang kaya dan berkuasa itu adalah anda, lalu anda menciptakan sebuah kondisi monopoli atau menggunakan uang anda untuk membiayai teroris (dalam bentuk apapun), kayaknya anda akan tamat. Kekuasaan itu mempunyai keterbatasan. Bahkan semua hal mempunyai keterbatasannya sendiri. Coba bayangkan, Ariel dan Lula, artis-artis beken itu bisa lebih popular dari SEOrang Menteri yang punya kekuasaan pada tingkat tertentu. Atau dulu Inul itu lebih berpengaruh dari pada SEOrang Gubernur. Buktinya banyak orang lebih ngotot nonton Inul dari pada mematuhi larangan Gubernur. Itu penontonnya yang mbayar lho, bukan Inul yang mbayar penonton!
Atau siapapun mereka. Olah ragawan misalnya, tanpa memberi perintah nyata, prestasi yang dicapainya mampu memotivasi dan menggerakkan massa untuk mengikuti jejak atau gayanya. Memang, orang kaya bisa melakukan sesuatu yang berbeda karena dompetnya yang tebal. Tetapi kere-pun bisa melakukan hal yang sama dan punya kekuatan yang sama. Lihat anak-anak punk di pinggir-pinggir jalan atau perempatan jalan itu. Gaya mereka sepenuhnya dipengaruhi gaya ‘kere’. Jadi, kesimpulannya, uang tidak mesti identik dengan kekuasaan dan kekuatan. Kalau begitu mengapa mesti ada ‘politik-uang’. Alah maaaaak, ternyata kuncinya: MORAL!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar