![]() |
| Cara menimbun uang, ..... juga bisa dibawah kasur |
Perilaku manusia yang masih primitive dalam berusaha memenuhi kebutuhannya ya sebatas apa yang dibutuhkan. Butuh makan ya berburu atau bertani bagi yang sudah mengenal bercocok tanam. Butuh pakaian ya memanfaatkan kulit binatang hasil buruannya atau memanfaatkan kulit kayu atau dedaunan. Butuh peralatan atau senjata untuk melindungi diri mereka menggunakan batu, kayu, kulit dan tulang binatang. Pokoknya dengan kecerdasan yang dicapainya mereka memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhannya. Kebetulan alam masih menyediakan segala kebutuhannya. Karena orangnya belum banyak tidak ada yang sampai perlu berebut kayu sehingga menggunduli hutan. Air melimpah, apalagi mereka belum tahu pentingnya mandi minimal dua kali sehari dan mencuci baju atau menyiram bunga.
Kemudian mereka menyadari atau dipaksa oleh perkembangan bahwa ternyata kemudian mereka tidak bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Muncullah ‘barter’, yaitu tukar menukar barang menurut kebutuhan dan ketersediaan pihak lain. Walaupun demikian akhirnya muncul kesulitan-kesulitan baru misalnya kesulitan mencari orang yang memiliki barang yang dibutuhkannya. Muncullah akal sehatnya dengan menciptakan alat tukar. Pada waktu itu benda yang bisa digunakan sebagai alat tukar bisa berupa barang yang mempunyai nilai mistis atau magis, atau benda kebutuhan utama sehari-hari seperti garam tetapi belum mengenal sembako (tentu waktu itu juga belum ada minyak gas dan elpiji). Orang Romawi menggunakan garam sebagai alat upah atau gaji. Orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang artinya garam.
Alat tukar lainnya adalah benda yang mempunyai nilai keindahan. Pada waktu itu kerang-kerangan dan cangkang binatang karang laut dianggap indah. Dijadikanlah benda-benda itu sebagai alat tukar. Sekarangpun masih demikian. Cangkang dan kerang yang telah di ‘modifikasi’ menjadi ornament yang bermacam-macam ditukar dengan uang (dijual) dan uangnya ditukarkan benda lain. Walaupun di temukan alat tukar seperti itu, kesulitan masih juga ada. Misalnya menentukan nilai dari benda itu, alat penyimpanan, cara tarnsportasi, apalagi benda-benda itu tidak tahan lama, mudah hancur dan mudah rusak. Beberapa kala kemudian muncul uang yang dibuat dari logam. Kecuali memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari orang, logam juga tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Karena emas dan perak memenuhi syarat tersebut, emas dan perak menjadi pilihan bahan uang logam. Kala itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam. Kemudian muncul kesulitan baru. Jumlah emas dan perak terbatas, tuntutan tukar menukar dalam jumlah besar meningkat. Penggunaan uang logam sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas. Awalnya uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti kepemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan dan dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Akhirnya, mereka menjadikan 'kertas-bukti' tersebut sebagai alat tukar, hingga kini.
Kegunaan uang kemudian juga berkembang lebih jauh. Dari menggantikan sistem barter, hingga sebagai satuan hitung (unit of account) yang digunakan untuk menunjukkan nilai berbagai macam transaksi barang/jasa, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman, memperlancar proses tukar menukar barang/jasa. Pokoknya kegunaan uang semakin hebat lah. Uang bisa untuk memindahkan daya beli seSEOrang dari masa kini ke masa mendatang, bahkan mempunyai fungsi turunan, misal sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (asset), dan alat untuk meningkatkan status sosial. Bahkan kini bisa untuk menguasai orang, membeli orang bahkan untuk memaksakan kehendak pada orang lain. Apa nggak mempesonakan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar