Anda sedang bersama:

Catatan si(mBah)Bagong

16 September 2010

Dari manula untuk manula

Menunggu uang pensiun
Ini cerita tentang perilaku orang tua atau sebut saja ‘manula’ alias manusia lanjut usia. Ya seperti saya ini. Kalau anda seperti saya, maksud saya sepantaran umur saya, pasti pernah menguatirkan tentang kondisi keuangan. Karena sudah nggak produktif menghasilkan uang lagi seperti ketika masih muda yang secara fisik masih rosa atau kuat.
Dengan badan yang masih rosa seperti kala itu, se sial-sial kita kalau terpaksa nggenjot becakpun, jadilah. Sekarang jelas tidak mungkin lagi. Pada kondisi kita tidak mampu bersaing mencari uang dengan orang muda, mungkin saja membuat situasi jadi semakin sulit. Untung kalau kita punya gaji pensiunan.
Bicara pensiunan tentu apa yang saya bicarakan bukan pensiunan Jendral, Gubernur, Menteri atau bahkan Presiden. Tetapi pensiunan klas dua-tiga jutaan lah. Saya bicara tentang saya saja. Anda harus percaya, karena ini riil walaupun diceritakan di dunia maya. Seorang pensiunan biasanya sudah bebas SPP (atau apa namanya sekarang pokoknya itu lho biaya sekolah anak). Kalau masih banyak tanggungan anak sekolah, ya alangan itu namanya. Dua-tiga juta sebulan harus cukup untuk biaya hidup sebulan dengan satu isteri (sekali lagi: satu isteri, karena saya belum pernah poligami). Karena cukup itu subyektif dan relative kan? Kalau saya bilang nggak cukup, saya dosa dua kali. Yang pertama dosa pada yang memberi rejeki karena berarti saya kurang/nggak bersyukur atas limpahan rejeki-Nya. Yang kedua, saya dosa pada Negara yang menggaji saya terus walaupun saya nggak bekerja. Coba bandingkan dengan TKI kita di Malaysia yang kerja terus tapi nggak digaji.
Tetapi sebagai seorang pensiunan, saya nggak mau jadi pensiunan klas elit - ekonomi suli-. Saya ingin yang klas menengah - menikmati enggak setengah-setengah. (Kok kayak iklan susunya BCL aja). Karena itu saya coba belajar ngeblog. Katanya bikin blog orang bisa jadi kaya. Siapa tahu to? OK supaya nggak nglantur mari kita sharing saja.
Pertama kita harus tahu dari mana uang kita itu datang. Kita membicarakan uang pensiunan kita, itu anggap saja pasip-inkam. Tapi juga inkam-habis, karena segala kebutuhan kita, kita bayar dengan uang itu. Mudah ditebak kan? Kita akan sharing tentang hal-hal yang bernilai uang. Supaya menjadi manula yang makin keren.
Supaya keren, kita harus tetap sehat jasmani rokhani, jiwa raga, lahir bathin. Karena sehat itu mahal. Jangan sampai uang yang cuma dua-tiga juta itu kepotong lagi untuk merawat kesehatan. Karena masalah kesehatan itu masalah besar bagi manusia lanjut usia. Jadi kita harus memastikan bahwa semua sudah beres dan hangan terjadi, yaitu dengan menjaga kesehatan. Bagaimana caranya? Lain kesempatan akan saya berikan tips yang lain untuk anda, di blog ini juga. Kita bicara masalah uang dulu. Karena ini bisa membantu banyak persoalan ‘keep in order’ (baik-baik saja gitu loooch).
Pelihara dulu asset anda yang telah dalam genggaman. Jangan boros. Sayangi semua milik anda seperti anda menyayangi barang bernyawa. Soalnya barang-barang anda tahu lho anda sayang atau tidak kepada mereka.
Ketika sampai pada ‘mengelola uang’ kita memang bisa sulit, karena uang kita yang cuma pas-pas-an itu. Karena itu kita perlu ‘planning’, daripada kita pening dikemudian hari. (Seperti yang terjadi pada saya sendiri sebelum saya menulis artikel ini).
Perencanaan keuangan orang tua tentu berbeda dengan perencanaan keuangan orang muda. Berhati-hatilah, atau lebih tepatnya cermatlah terhadap kemungkinan yang akan timbul. Rencanakan scenario berbeda untuk kondisi keuangan yang berbeda. Biasanya orang tua banyak muncul penyakit karena ketuaan. Tentunya ini sudah di perkirakan jauh hari. Nabunglah, tapi jangan sampai menjadikan ‘lebih takut nggak punya uang dari pada takut sakit’. Artinya, jangan menunda berobat ketika sakit karena saking inginnya punya tabungan. Pepatah mengatakan ‘sedia payung sebelum hujan’ dan ‘pencegahan (agar tidak menjadi lebih parah) lebih baik dari pada pengobatan (karena ini akan lebih mahal). Nah, perlu diingat, kondisi yang sehat bisa merubah kebutuhan masa depan juga. Kalau sudah sehat, kebutuhan itu adalah menjaga supaya tetap sehat dengan hidup yang ‘enjoy aja’. Santailah.
Tetapi tetap harus diingat, kalau uang yang kita terima itu pas-pasan. Jadi jangan sampai dikelola dengan ‘lebih besar pasak daripada tiang’, nanti rumahnya bisa mudah roboh. Kecuali scenario yang baik juga disiplin melaksanakan anggaran rumah tangga. Keduanya ini berpasangan, sejoli. Karena dalam hal ini bukan berapa banyak anda terima gaji tapi bagaimana anda mengelolanya. Kalau ada pension ke tiga belas sih lain lagi. Walaupun kadang ada yang sudah masuk dalam anggaran sebelum ada pengumuman resmi dari pemerintah. Bagaimanapun akan lebih baik kalau tidak membuat ‘anggaran biaya bayangan’ seperti ini.
Yang terakhir, berhati-hatilah dengan tawaran kredit dengan balutan ‘rencana investasi’. Jangan termakan omongan orang ‘negara saja punya utang’! lalu langsung dengan sigap menangkap tawaran kredit. Juga, nggak perlu bangga punya kartu kredit. Cukup kartu ATM sajalah. Semoga tips dari sesama manula ini bermanfaat. Paling tidak bisa membuat anda tersenyum katika membacanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar